Diposkan pada Pengelolaan Seni Pertunjukan

Mahasiswa Magister Tatakelola Seni ISI Yogyakarta Menggelar Pendampingan Kesenian Pekbung Wijirejo (Pengabdian Masyarakat)

Magister Tatakelola Seni terbilang baru di dunia pendidikan Indonesia yang memiliki fokus pengelolaan di bidang seni. Mahasiswa diangkatan pertama sangat antusias untuk membangun citra Prodi tersebut. Dengan merealisasikan program-program dari matakuliah, mahasiswa mampu untuk memberikan sesuatu untuk masyarakat dan memberikan pencitraan yang positif pula tentunya. Kegiatan ini berlangsung daritanggal 2 Januari sampai tanggal 20 jan 2013. Dan didalamnya akan diberikan bekal mengenaipengelolaankeseniansecara internal daneksternal, internal terkait dengan pengelolaan secara musikal, dan eksternal berkaitan tentang bagaimana menjalin relasi dengan media dan strategi publikasi. Menurut Novena, mahasiswi MTS angkatan 2011, kosentrasi Manajemen Seni Budaya, sebagai akademisi ada baiknya ilmu yang diperoleh dalam kelas dapat membantu permasalahan kesenian yang ada di masyarakat, dalam hal ini kesenian tradisional yang dimiliki masyarakat setempat dapat mengangkat potensi desa lainnya, sehingga juga dapat menjadi pariwisata desanya sehingga berdampak pada perekonomian masyarakat setempat pula.

Pembukaanpendampingantersebutdilaksanakan, tadimalam, 02 Januari 2013.Acara yang yang direncanakan mulai jam 7 malam, karena faktor cuaca yang hujan deras, akhirnya mulai pada pukul  8.30  di Aula KelurahanWijirejo, Pandak, Bantul. Kami mengadakan sebuah program pemberdayaan masyarakat dengan tema “Pekbung Semangat Indonesia”.  Dalam program ini melibatkan langsung pelaku kesenian pekbungdi Desa Wijirejo. Dari hasil obsevasi teman-teman Mahasiswa MTS (Magister Tatakelola Seni) menemukan tiga kelompok kesenian pekbung di tersebut. Kemudian dari hasil wawancara dan dokumentasi kami mencoba untuk melakukan sesuatu untuk keberlangsungan kesenian tersebut, kata Kristin.

Saat Pembukaan dihadirkan beberapa komunitas musikdarimahasiswa/I yang peduli akan masyarakat dalam berkesenian diantaranya Komunitas PATROL (Ikatan Mahasiswa Jember Yogyakarta), Komunitas Pecel Phencuk (kumpulan mahasiswa dari banyuwangi), HMJ Etnomusikologidari ISI Yogyakarta, dan Djembe Sewon (komunitas perkusi sewon, Bantul)dengan memberikan apresiasi komposisi musik yang dominan dengan music ritmis. Dengan harapan, melalu apresiasi tersebut kelompok  pekbung dan kelompok musik lainnya dapat saling menginspirasi, ujar Arya.

Setelah sambutan dari perwakilan Mahasiswa MTS, Kelurahan dan Pekbung. Barulah kelompok kesenian pekbung  ini menyajikan lima buah lagu dengan menggunakan dua penyanyi. Meskipun cuaca pada malam itu tidak mendukung untuk semua pemain-pemain pekbung ikut terlibat, tetapi semangat dan antusias dari mereka terlihat saat mereka melakukan spontanitas kolaborasi dengan 3 klompok pekbung. Tepukan dan sorakan dari penonton sangat meriah dengan adanya kolaborasi tersebut. Sesekali penonton ikut bernyanyi dan memberikan irama tepukan,  suasana hujan yang dingin menjadi hangat di Aula kelurahan Wijirejo.

Kemudian dilanjutkan dengan kelompok Djembe Sewon, yang memberikan sajian perkusi dan sangat interaktif. Dilanjutkan oleh kelompok HMJ Etnomusikologi dengan menampilkan arransemen musik nusantara. Dan penampilan yang terakhir oleh kelompok Patrol yang menampilkan beberapa lagu dengan instrument yang terbuat dari pohon nangka.

Setelah beberapa repertoar yang telah diapresiasi kami juga mengadakan sharing dengan klompok kesenian pekbung dan kelompok musik lainnya. Melalui dikskusi ini mengenal dan mengetahui kendala-kendala yang selama ini dihadapi oleh pelaku kesenian pekbung tersebut. Menurut salah seorang pemusik Pekbung, ketertarikan terhadap seni, sejak 1972 karena merupakan pengajar tari sebelumnya, hingga selanjutnya tertarik dalam pelestarikan dan eksistensi kesenian Pekbung di desa nya  kemudian bergabung di Kelompok Pekbung Sambung Tresno dengan pimpinan Pak Gayuh.

Sedangkan Angga, siswa SMP kelas VIII yang merupakan pemusik Pekbung, ketertarikannya terhadap kesenian sejak ekstrakurikuler perkusi di sekolahnya dan kemudian ikut bergabung bersama ayahnya yang seorang penabuh ‘pekbung’ di Kelompok Pekbung Dakon Marga Budaya. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kesenian Pekbung, tidak perlu menjadi kekwatiran dengan adanya dukungan dari para pelakunya yang tetap eksis berlatih dan berkarya dapat menghadirkan ide-ide  penggarapan musik yang lebih menarik misalnya Pekbung Jazz, menurut Deny pemusik dari Djembe Sewon. 

Bagi Dawai, mahasiswa UGM jurusan ekonomi, Komunitas Patrol, kegiatan ini sangat memberikan wawasan baru, karena  merupakan berasal dari beberapa latarbelakang pendidikan yang berbeda, dan bukan dari bidang seni, pengetahuan akan keberadaan Kesenian Pekbung di Yogyakarta sangat mengapresiasi dan berharap kesenian ini akan memperkaya kesenian di Indonesia. Sedangkan Stevi, mahasiswa pertukaran pelajar di ISI Yogyakarta dari Jerman, mengatakan sangat apresiatif terhadap Kesenian Pekbung, karena  kesenian di Indonesia memiliki keunikan tersendiri karena adanya interaksi yang dapat dibangun dengan penontonnya. (hr)

Diposkan pada Pengelolaan Seni Pertunjukan

Komitmen Organisasi Natya Lakshita (didik Ninik)

Pendahuluan

Sanggar Natyalakshita berdiri 2 Februari  1980 yang didirikan oleh Didik Nini Thowok dan organisasi ini bergerak dalam pelatihan kuursus dan entertainmen. Adapun tujuan dari organisasi ini yakni memajukan dunia tari, menghasilkan tari-tarian yang memilliki keunikan dan kekhasan tertentu, menyiapkan karya untuk melayani masyarakat yang membutuhkan hiburan tari, membuka kursus tari untuk masyarakat. Organisasi Natyalakshita memiliki 10 karyawan, dengan divisi-divisi sebagai berikut: keuangan, Dokumentasi, Marketing, Koregrafer, manager dan musik, Computer graphic, Design Graphic Property dan kostum. Pada kesempatan kali ini penulis akan menganalisis mengenai komitmen organisasi Natyalakshita dengan melakukan pendekatan teori motivasi.

Komitmen Organisasi Natyalakshita

Komitmen dalam organisasi merupakan suatu ikatan karyawan terhadap organisasi. Satu organisasi harus memiliki komitmen yang kuat dan jelas terhadap karyawannya agar mampu mencapai kepentingan organisasi. Luthnas (1992) membagi tiga mengenai defenisi komitmen organisasi: (1) keinginan yang kuat untuk menjadi anggota dalam suatu kelompok, (2) kemauan usaha yang tinggi untuk organisasi (3) suatu keyakinan tertentu dan penerimaan dan tujuan-tujuan organisasi.

Natyalakshita merupakan organisasi yang berbadan hukum. Setiap organisasi memiliki aturan-aturan yang telah disepakati bersama, STATUTA, AD/ART, atau PO. Berdasarkan observasi di sanggar Natyalakshita, karyawan-karyawan masuk pada jam 09.00-17.00 WIB. Setiap pagi sebelum karyawan mengawali kerja, mereka melakukan briefing untuk rencana kerja harian. Dan setelah jam pulang mereka mengadakan evaluasi kerja harian. Karyawan di organisasi Natyalakshita bekerja mulai dari hari senin-sabtu.

Komitmen yang ada dalam organisasi ini tertera pada pembagian kerja divisi-divisi. Masing-masing karyawan telah memiliki target yang akan dicapai. Jadi karyawan dalam Natyalakshita memiliki tanggung jawab kerja yang harus dilaksanakan sesuai dengan komitmen untuk mencapai kepentingan organisasi. Adapun pembagian kerja karyawan Natyalakshita adalah sebagai berikut:

Keuangan: KTP terbaru DNT, Kartu kredit dari semua Bank, SIUP, HO, NPWP (pribadi dan lembaga), Daftar laporan Keuangan, Akte kelahiran DNT, Akte ganti nama DNT, Akte Kelahiran DNT, Rek. Koran Bank, Pas Photo, Arsip data nota pengeluaran, Penanggung jawab: Pajak kantor, PBB dan Motor.

Komputer Grafis: Data Photo-photo, Data MDV, Data CD/VCD/DVD, Wibsite, Internet, Data-data semua desain, Hard disk external, Data Peralatan dokumentasi sanggar, Data inventaris computer, Penanggung jawab dokumentasi, Penanggung jawab desain grafis.

Dokumentasi: Peralatan dokumentasi sanggar, Data transfer MDV Hard Disk external, Data photo-photo transfer DVD data, Daftar list pemakain dokumentasi, Laporan transfer MDV dan photo.

Marketing: Jadwal Show DNT dan sanggar, Promosi DNT dan sangar, Surat Kontrak, Kwitansi pembayaran/pelunasan, Berita acara job show, Pasport DNT, Pas photo DNT, Arsip surat undangan pentas, HUT kota Indonesia, HUT/ event rutin perusahaan, Event rutin local (Yogyakarta), CV terbaru DNT, Absensi Karyawan.

Koreografi: Musik tari DNT dan sanggar, Sinopsis tari DNT dan sanggar, CV terbaru DNT, Data tarian DNT dan sanggar, Notasi iringan music tarian, Naskah scenario drama tari, Jadwal pertunjukan tari DNT dan sanggar (info), Daftar penari, Pengajaran LPK tari Natyalakshita.

Musik dan Kordinator: Budjet project-perencanaan, Daftar/ inventaris CD musik DNT dn sanggar, Berita acara job show, Peralatan musik pementasan, laporan hasil meeting harian sanggar, jadwal latihan pertunjukan, Pengajar kelas, Administrasi LPKTNL, Editing musik, konsultan kostum.

Kostum, property dan recording:  Data kostum DNT, Data Kostum sanggar, Data peralatan make up, Data WIG, Data asesories, List data daftar kostum pentas job show DNT, Laporan pemasukan/pengeluaran kostum, Data peralatan properti, Data rekaman kaset, data peralatan rekaman, Laporan pemasukan dan pengeluaran kaset.

Teori kebutuhan berprestasi McCelland

Dalam teori McCelland mengemukakan 3 motif yaitu, kekuasaan, afilasi, dan berprestasi yang dapat member pengaruh terhadap kerja. Namun pada tahapan ini penulis lebih terfokus pada motif berprestasi. Karena pada tahapan teori kebutuhan McCelland ini, mempertegas mengenai tanggung jawab setiap kerja individu.

Motif Berprestasi

Mengarah terhadap kepentingan masa depan dibandingkan masa lalu atau masa kini dan individu akan menjadi lebih kuat dalam menghadapi kegagalan karena dirinya dapat memperkirakan situasi yang akan datang untuk memperoleh prestasi yang lebih bai dalam bekerja. Dan individu akan mengerjakan sesuatau yang gigih dan resiko pekerjaannya adalah moderat.

Pembahasan

Berdasarkan pembagian kerja di atas, setiap divisi memiliki pekerjaan dan harus dicapai sesuai dengan perencanaan yang disepakati bersama. Dan ini sudah menjadi komitmen organisasi Natyalakshita, setiap divisi mempunyai kerja dua arah. Pertama bergerak di bidang Pelatihan Kursus, yang kedua bergerak dibidang entertainment.

Mengamati pembagian kerja dalam organisasi Natyalakshita dengan melihat karyawan yang hanya 10 orang, apakah mampu menjalani komitmen dalam organisasi ini. Dari hasil wawancara dengan Mas Didik, karyawan-karyawannya sangat antusias dalam pekerjaan yang telah diberikan. Mereka tetap bertanggung jawab dengan pekerjaannya masing-masing.

Memang dalam organisasi  ini sebagian karyawannya belum menjadi pegawai tetap. Dan setiap karyawan masih terikat dengan kontrak kerja. Adanya kontrak dalam organisasi ini menjadikan karyawan bertanggung jawab dengan kerjanya masing-masing demi kepentingan organisasi. Mengaitkan antara teori dengan  observasi penulis pada Natyalakshita, karyawannya sangat memegang teguh komitmen dalam organisasi. Dengan mengadakan briefing setiap paginya dan evaluasi sebelum waktu pulang, pakaian dinas harian, ini menandakan bahwa adanya kepedulian terhadap masing-masing kerja untuk tujuan bersama.

 

Dalam pembahasan di atas organisasi Ntyalakshita secara teori hanya menggunanakan motif berprestasi McCelland.

 

Sebagai kesimpulan sementara, secara fisik bahwa Natyalakshita memiliki komitmen organisasi yang kuat. Teori dorongan McCelland pada motif  berprestasi, dapat diaplikasikan dalam organisasi Natyalashita mengenai komitmen organisasi.

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Sutarto Wijono, 2011. Psikologi Industri & Organisasi (Dalam Suatu Bidang Gerak Psikologi Sumber Daya Manusia), Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Edy Sutrisno, 2010. Budaya Organisasi, Jakarta:  Kencana Perdana Media Goup

 

Diposkan pada Pengelolaan Seni Pertunjukan

BIOGRAFI Haryudi

 

Biografi Haryudi RahamanIMG00041-20120923-2134

Haryudi Rahaman adalah sosok yang sangat aktif dalam bidang pengelolaan seni pertunjukan. Sudah beberapa event-event yang diselenggarakan khususnya di Makassar. Seperti pengelolaan konser-konser tugas akhir mahasiswa programstudi musik dan tugas akhir tari. Sebelum terjun sebagai orang yang dipercayakan dalam pengelolaan, memang dia juga aktif dalam organisasi internal dan eksternal kampus. Bekerjasama sudah menjadi hal yang biasa buat figur yang akrab di panggil yudi ini. Berdasarkan empiris dari berorganisasi inilah yang diaplikasikan dalam pengelolaannya. Dari tahun 2006 mulailah mengelola konser yang pertama dengan tema “Untuk Satu Cinta”. Konser ini dipersiapkan betul-betul secara matang demi membangun kepercayaannya kepada orang-orang yang mempunyai kepentingan dalam kegiatan tersebut. Setelah memperoleh kesuksesan pertama, yudi juga aktif bermain gitar klasik ini memmiliki citra yang baik di dalam kampus. Output dari suksesnya kegiatan tersebut mendatangkan input yang berkelanjutan. Akhirnya setiap jurusan SENDRATASIK yang akan menggelar ujiannya tanggung jawab diberikan sepenuhnya oleh Haryudi.

Anak ke-4 dari lima bersaudara ini, beberapa tahun terakhir juga menyelenggarakan event-event yang berkaitan dengan pemerintah. Makassar Art Moment salah satu event pemerintah pariwisata Makassar, yang menjadi kegiatan tahunan untuk kebutuhan pariwisata. Dengan menggelar beberapa elemen-elemen kesenian yakni pameran seni rupa, pasar seni, pertunjukan seni dan seminar yang berkaitan dengan seni. Meskipun tidak menjadi orang yang pertama, Yudi tetap gigih melaksanakan tanggung jawabnya di budang pertunjukan. Bekerjasama dengan pemerintah merupakan pengalaman yang menarik buat dirinya.

Setelah menyelesaikan studi di Universitas Negeri Makassar, pria yang punya hobi minum kopi sambil berdiskusi melanjutkan pendidikannya di ISI Yogyakarta salah satu perguruan negeri seni ternama di Indonesia. Jurusan Magister Tatakelola Seni menjadi pilihannya untuk melanjutkan bakatnya di bidang pengelolaan seni pertunjukan. Dengan itu, Yudi membuka diri dan harus mampu beradaptasi dengan kebudayaan yang asing baginya. Meskipun tak mampu menggunakan bahasa jawa, tapi dengan keterbukaannya dia tetap tidak harus merasa asing ditengah-tengah pembicaraan yang dia tidak mengerti sama sekali. Namun demikian pengaruh lingkunngan sangatlah berpengaruh, meskipun tak mampu mengucapkan semua bahasa Jawa tapi dia mulai memahami dan mengerti.

Proses pendidikannya berjalan dengan baik, berkumpul bersama teman-temannya dan berdiskusi mengenai pengelolaan, buku, budaya dan mengenai issu-issu baru mengenai perkembangan seni pertunjukan. Di kota yang penuh dengan warna-warni kesenian ini Yudi pernah mengelola salah satu tugas akhir dari mahasiswa Pascasarjana ISI jurusan Penciptaan Musik dan Tari. Tidak jauh beda dengan kebiasaan yang dilakukan di Makassar pada saat kuliah S1. Namun yang membedakan hanyalah budaya, Yudi berusaha memahami karakter masyarakat di sana ketika mengapresiasi sebuah pertunjukan dan memahami individu yang terlibat dalam pengelolaan.

Di tengah-tengah proses pengelolaan ini, pemerintah pariwisata Yogyakarta memberikan tanggung jawab pengelolaan Festival Kesenia Yogyakarta 2012 kepada Mahasiswa Magister Tatakelola Seni. Dalam proses ini dia sempat dilema dengan dua pengelolaan, yang satu untuk pemerintah dan yang satunya lagi untuk mahasiswa. Posisi pada saat itu sebagai pimpinan produksi di pengelolaan ujian akhir. Namun akhirnya dia memilih untuk lebih fokus ke pertunjukan ujian akhir tersebut. Dia  juga meyakini bahwa setiap pilihan itu mempunyai konsekuensi dan memang pada saat itu kondisi mengharuskan untuk memilih salah satu dari kegiatan tersebut. Tetapi dia tetap memberikan kontribusi terhadap FKY2012 dengan tidak menjadi pelaksana inti.

Selain bermain gitar pria yang dulunya tidak punya dukungan di dalam keluarga mengenai seni, bernyanyi merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan semenjak kecil. Diumur 5 tahun Ibunya yang bernama Hj. Mastura sibuk dengan pendidikannya untuk kenaikan golongan di salah satu Taman Kanak-Kanak Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Semenjak itu anak berdarah bugis ini, di jaga oleh seorang nenek yang tinggal di samping rumah. Nenek inilah yang membuka jalan mengenai seni suara, mengajarkan lagu-lagu tradisional bugis menjadi Yudi bangga akan kesenian tradisionalnya sendiri.

Sejak dari kecil bakat seninya memang sudah ada, menyanyikan lagu-lagu tradisional dan popular pada zamannya. Kemudian bakatnya diperdalam dengan melakukan latihan, mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah yang berkaitan dengan seni. Di lingkungan tempatnya bergaul juga menjadikan bakat bernyanyi lebih terlatih.

Masuklah dia di Universitas Negeri Makassar yang menampung bakatnya di jalur kesenian. Meskipun gelar sarjananya adalah pendidikan, tetapi dia sangat ingin memperdalam ilmunya dibidang seni. Sosok yang ingin belajar, berusaha, dan berani mengambil keputusan itulah dirinya.

Diposkan pada Interpretasi

Peranan Artistic Director

A. Latar Belakang

Perkembangan seni pertunjukan di Indonesia di mulai pada abad ke-18 hingga saat ini. Sebagai negara  baru, Indonesia merupakan negara yang berkembang seni pertunjukaannya. Meskipun perkembangan itu berangkat dari suatu kondisi yang tumbuh dalam lingkungan etnik. Pada masa perkembangannya seni pertunjukan hanya di khususkan buat raja-raja dan yang berkediaman di istana. Hingga untuk menyaksikan sebuah pertunjukan sangatlah sulit. Akhirnya para praktisi seni pertunjukan memutuskann untuk pentas ke masyarakat umum juga. Sejalan dengan berkembangnya seni pertunjukan maka lahirlah sebuah organisasi-organisasi yang lebih memperhatikan kebudayaan-kebudayaan lokal.

Seni pertunjukan merupakan cabang dari seni yang meliputi, Musik, Tari, dan teater. Cabang-cabang inilah yang di pertunjukkan untuk penonton di sebuah panggung. Di era modern ini perkembangan organisasi-organisasi pertunjukan seiring dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat akan pertunjukan. Entah itu yang bersifat profit dan  nonprofit. Khususnya daerah Yogyakarta yang kita kenal bukan hanya kota pendidikan, namun juga merupakan kota yang kaya akan keseniaanya. Pertunjukan di setiap titik-titik kota hampir tiap hari diadakan dan beraneka ragam pertunjukan musik, tari dan teater.

Salah satu tempat yang sering mengadakan pertunjukan yakni perguruan tinggi ISI Yogyakarta. Pertunjukan yang mereka sajikan biasanya pertunjukan yang berhubungan mata kuliah atau tugas akhir dari mahasiswa-mahasiswi fakultas pertunjukan. Namun biasa juga mahasiswa-mahsiswi mengadakan pertunjukan yang  bertujuan untuk pembelajaran mengelola sebuah kegiatan.  Secara garis besar gedung ini sangat representatif untuk sebuah pertunjukan. Namun membicarakan pertunjukan pasti tak lepas pula pengelolaannya, kerena keduanya saling berhubungan. Unutk mencapai keberhasilan pertunjukan bukan hanya sekedar materi dari apa yang di sajikan ke pada audience. Melainkan ada sebuah kerjasama yang solid dari pihak pengelola pertunjukan tersebut atau manager pertunjukan.

Pengelolaan seni pertunjukan dibutuhkan pada setiap kegiatan-kegiatan pertunjukan. Demi mencapai efektifitas pertunjukan yang profesional. Dalam sebuah organisasi pertunjukan pada dasarnya mempunyai prinsip-prinsip yang sama, namun ada juga yang belum memahami akan hal ini. Untuk sebuah pertunjukan yang “profesional” mestinya ada langkah-langkah yang harus ditempuh.

Pada kesempatan ini penulis akan membahas tentang proses pengelolaan di bidang artistic director. Ini juga merpakan bagian penting dari sebuah pertunjukan, dan dalam pembahasan kali ini hanya berfokus pada artistic director hubungannya executive director.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana artistic director dalam pengelolaan symphony orcrstra dan hubungannya ke executive director ?

C. Teori

Tori Kepemimpinan,

• Proses mengarahkan dan mempengaruhi aktifitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok.

•  Kemampuan untuk menggunakan pengaruh, artinya, kemampuan untuk mengubah sikap atau tingkah laku individu atau kelompok.

• Tindakan atau contoh tingkah laku yang menyebabkan perubahan sikap atau tingkah laku orang atau kelompok lain.

• Kepemimpinan adalah fungsi atau proses seseoang mempenggaruhi orang lain untuk menjalankan kegiatan demi mencapai tujuan bersama.

• Motivasi adalah kebutuhan orang yang mendorong orang untuk berbuat sesuatu, yang kemudian yang kemudian orang menyebabkan orang bertingkah laku tertentu dalam usahanya untuk mencapai suatu tujuan.

Proses Manajemen

• Perenncanaan

• Pengorganisasian

• Pelaksanaan

• Pengendalian

D. Pembahasan

Berdasarkan teori kepemimpinan peranan artistic director perlu memahami akan hal-hal yang bersangkutan dengan bagaimana memperngaruhi seseorang demi tercapainya sebuah kegiatan tertentu. Seorang artisic director ketika mengelola sebuah symphony orcestra banyak hal yang perlu di pikirkan. Artistic director juga membutuhkan orang-orang untuk menjalankan fungsi-fungsi dari artistic director tersebut. Adapun fungsi-fungsinya yakni,

• Pengawasan semua aktivitas musisi

• Menyediakan pengarah musik , artis dan gedung pertunjukan concert hall/aula, dan yang berhubungan  dengan proses yang artistik.

• Bekerja sama dengan pengarah musik dalam hal memprogram dan menyeleksi pemain, menentukan jadwal, daftar lagu-lagu.

Berdasarkan fungsi inilah artistic director membutuhkan orang-orang untuk menjalankan fungsi-fungsi diatas. Dalam sebuah struktur organisasi, pengelolaan syimphony orchestra artistic director memerlukan stage manager, lighting manager, sound manager dan lain-lain yang sifatnya artistik. Peranan seorang Artistic director haruslah bisa menggerakkan orang-orang yang ada di bawahnya atau memimpin dan memotivasi agar tetap miliki semangat kerja dalam sebuah pencapaian kegiatan.

1. Perencanaan

Dalam tori proses manajemen ada empat tahap yang harus di lakukan, yang pertama adalah perencanaan. Artistic director juga memiliki perencanaan ketika mengelola sebuah pertunjukukan symphony orchestra. Ada beberapa hal yang dilakukan untuk perencanaan artistic director, yakni audisi, jadwal latihan, pengadaan gedung, sound system, lighting, kostum dan tata rias jika dibutuhkan. Perencanaan murupakan pencapaian akan sasaran yaang akan di tuju. Ketika perencanaan sudah dirumuskan tinggal menetapkan kapan akan di lakukan. Manfaat perencanaan dalam artistic director yakni mengurangi resiko ketidak pastian, memusatkan perhatian pada sasaran.

Executiv director dalam perencanaan ini menangani hal-hal yang sifatnya administrasi. Misalnya dalam perencanaan untuk audisi, artistic director memberikan referensi tempat yang layak untuk dipakai audisi kepada executive director. Dan executive directorlah yang mengurus semua perijinan untuk diadakannya audisi.

Telah kita ketahui bersama bahwa mengadakan pertunjukan berkaitan dengan waktu, tempat dan performer. Pada tahapan ini artistic dan executiv director bersama dengan anggota-anggota lainnya menentukan kapan pertunjukan akan dilaksanakan, dimana akan dilaksanakan, kemudian siapa yang menjadi performer.

Pemilihan waktu haruslah beruhubungan dengan tema yang akan di laksanakan. Misalnya ini penulis mencoba mengambil tema LOVE MOM,  pasti penulis akan sinkronkan dengan hari jadi ibu. Waktu juga berhubungan dengan siang dan malam, kalau siang berapa penonton yang akan hadir dan siapa penontonnya, begitu juga dengan di malam hari. Durasi pertunjukan juga harus di pikirkan karena ini berkaitan dengan tingkat kejenuhan penonton. Inilah yang harus dipertimbangkan dalam membuat sebuah pertunujukan.

Tempat merupakan alsan orang untuk mengapresiasi pertunjukan yang akan di laksanakan. Pemilihan tempat harus strategis dan gampang ditemukan, kemudian nyaman dan suasana di sekitarnya mendukung. Siapa yang akan jadi performer, hal ini juga harus disesuaikan dengan tema yang kita angkat. Untuk lebih menarik penonton mungkin ada baiknya kita persiapkan pemain-pemain dominan anak-anak kecil.

2. Pengorganisasian

Peongorganisasian pada artistic director dalam sebuah pertunjukan symphony orcestra, mengelompokkan pekerjaan-pekerjaan kedalam sebuah tim atau satu. Misalnya music director melaksanakan audisi untuk pemain orcestra, music director merupakan seorang komposer atau conduct. Melaksanakan audisi perlu mengetahui apa-apa yang menjadi pertimbangan untuk sebuah pemain  simfoni orkestra.

Stage manager megatur kebtuhan-kebutuhan panggung, menyediakan hal-hal yang berhubungan dengan pemain. Dalam pemilihan tempat pentas haruslah orang yang betul memahami tentang akustik ruang, misalnya dalam concer hall. Mengatur alur pertunjukanp dan penyediaan stand part.

Sound manager mempertimbangkan kualitas suara yang akan di keluarkan, survei tentang gedung pertunjukan yang telah di tetapkan dan mempertimbangkan kebutuhan sound yang akan di pakai dalam kapasitas watt. Kemudian kebutuhan mic yang di perlukan dan jenis mic yang di gunakan. Dalam pertunjukan simfoni orkestra sa

Lighting manager mengatur pencahayaan di atas panggung, secara umum posisi lighting di dalam pertunjukan simfony orkestra hanya sebagai penerangan saja. Namun ini tergantung dari konsep pertunjukan.

Dalam pengorganisasian executive director menjelaskan berapa penonton yang akan hadir dan berapa tiket yang harus diproduksi untuk satu pertunjukan. Hal ini berkaitan dengan penonton nantinya. Kapasitas penonton akan mempengaruhi akustik ruang, maka dari itu harus dipaparkan pada saat pengorganisasian.

3. Pelaksanaan

Artistic director dalam proses pelaksanaan yakni meberikan instruksi atau mengkomunikasikan harapan organisasi, memimpin dan memotivasi. Dalam hal ini lebih kepada memberikan semangat kepada anggota-anggota dan membangun komunikasi.

Pada saat pelaksanaan, waktu harus susuai dengan yang ada di jadwal pertunjukan. Karena kita juga harus tetap konsisten dengan waktu yang telah ditentukan. Kemudian penentuan kursi untuk penonton undangan, penonton khusus dan penonton biasa, ini harus juga dipikirkan karena berhubungan dengan bagaimana membuat mereka menjadi lebih nyaman dan akan berdampak kegiatan-kegiatan selanjutnya.

4. Pengendalian

Pngendalian merupakan bagian tak terpisahkan dalam proses manajemen dan sering dikaitkan dengan fungsi perencanaan. Pengendalian pada prinsipnya adalah mekanisme yang berfungsi untuk menjamin atau memastikan tercapainya sasaran yang telah  di tetapkan dalam perencanaan.

Pada tahapan pengendalian ini lebih kepada mengevaluasi kegiatan yang telah terlaksana. Semua yang terlibat dalam kegiatan ini memaparkan hal-hal yang belum tercapai mulai dari perencanaan sampai pada tahapan ini. Setelah memaparkan kekurangan-kekurangan yang terjadi, maka dijadikan untuk mengatasi kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan selanjutnya.

E. Kesimpulan

Pengelolaan artistic director dalam perrtunjukan simfoni orkestra merupakan sebuah peranan penting dalam organisasi pertunjukan. Artistic director harus mengetahui tentang gedung yang representatif, sound, lighting, kostum dan rias jika diperlukan. Kemudian bekerjasama dengan artistic director hal-hal yang berkaitan dengan administrasi.

Daftar Pustaka

Greg Soetomo, SJ. 2007. Management Peter F.Drucker on Church. Jakarta: OBOR.

Mitch Weiss, dan Perri Gaffney. 2005. Managing Artists In Pop Music (Kunci Sukses Artis dan Manager. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Soedarsono, R., M. 2003. Seni Pertunjukan Dari Perspektif Politik, Sosial dan Ekonomi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

Suyanto, M. 2007. Marketing Strategy Top Brand Indonesia. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.

Tobie S. Stein., dan Jessica Bathurst. 2008. Performing Art Management (A Handbook of Professional Practicies. Published: Allworth Press.

Wendi Putranto,. 2009. Rolling Stone Music Bizz (Manual Cerdas Menguasai Bisnis Musik). Yogyakarta: B-First.

Diposkan pada Penelitian

Proses Pembuatan Keris

Kebudayaan merupakan hasil karya , budi , dan pemikiran manusia pada suatu daerah atau bangsa tertentu . Hal tersebut menyebabkan adanya perbedaan-perbedaan kebudayaan antar daerah bahkan dalam satu bangsa atau negara .

Seiring perjalanan waktu, perkembangan peradaban, pemikiran, dan perkembangan arus informasi yang semakin cepat, mengakibatkan akulturasi kebudayaan antar bangsa yang semakin sering dan mudah diterima. Hal tersebut terkadang membuat kita sering melupakan kebudayaan yang ada pada daerah sendiri sebagai identitas daerah.

Senjata tradisional menjadi khasanah budaya indonesia, tentunya setelah nenek moyang kita mengenal besi. Begitu banyak bangunan-bangunan candi yang berdiri sebelum abad ke-10, hal ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia pada waktu itu telah mengenal peralatan besi yang cukup bagus, sehingga mereka dapat menciptakan karya seni pahat yang bernilai tinggi.

Seorang pandai besi yang bertempat tinggal di bagian barat Yogyakarta, tepatnya Getak Sumber Agung Moyudan Sleman dan bernama Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo. Pria yang berumus sekitar 50 tahun memulai aktifitas membuat keris ketika di ajak oleh ayahnya pada tahun 90-an hingga saat ini. Empu sungkowo mewarisi keahlian ayahnya Ki Empu Djeno Harumbrodjo.

Ki Empu Djeno Harumbrodjo adalah putra dari Ki Supowinangun yang merupakan Empu Keris abdi dalem Kepatihan Kraton Yogyakarta. Sejak berumur 15 tahun Ki Empu Djeno Harumbrodjo mulai membantu ayahnya Ki Supowinangun membuat keris. Setelah Ki Supowinangun meninggal dunia Empu Djeno bertekad meneruskan warisan pembuatan keris dari ayahnya.

            Perjalan di tengah terik matahari yang menempuh kira-kira 60 menit dari kota jogja hingga ke tempat pembuatan keris di bagian barat jogja. Terasa sejuk ketika tiba di depan halaman rumah Pak Djono yang mempunyai rumah besar, pagar warna coklat yang tingginya kira-kira 2 meter dan panjang 6 meter , suasana pedesaan sangat terasa. Suara besi terdengar dari arah tempat pembuatan keris yang berada tepat di belakang rumah. Seorang pria yang memakai celana pendek dan memakai topi, sedang merapikan sebuah keris yang belum jadi di depan tempat pembuatan keris. Di atasnya bertuliskan papan nama Seni Tempa Pamor Ki Empu Harumbrodjo Getak Sumber Agung Moyudan Sleman.

            Ruang tamu yang unik, disekelilingnya terdapat pajangan-pajangan yang di bingkai tentang keturunan empu keris di mulai dari, Mojopait: Kyai Empu Tumenggung Supodriyo, Kyai Empu Joko Supo, Tuban: Kyai Empu Supoanom dan Kyai Empu Sektilanang, Mtaram: Nyai Panjang Emas, Kyai Empu Cindeamoh dan Kyai Empu Suponyang, Kartosuro: Kyai Empu entowayang dan Mas Ayu Kadarsi, Surokarto: Raden Ayu Pandit, Ngento-Ento: Nyai Badur dan Kyai Empu Kertoyudo, Jenggalan: Kyai Empu Joyosenito, Kyai Empu Joiruno dan Kyai Empu Supowinangun.

            Secara agris besar keturunan Pak Djono merupakan  keturunan dari Ngento-ento yakni Kyai Empu Kertoyudo. Pak Djono juga diwariskan keahlian membuuat keris oleh ayahnya. Di dinding-dinding rumah ada juga pajangan tentang jenis-jenis pamor, bagian-bagian keris dan foto-foto proses pembuatan keris. Di ruang tamu ada semacam tempat penyimpanan keris namun yang di pajang hanya sarung dari keris tersebut. Tombak yang panjangnya sekitar 1 meter lebih ada 3 buah, dan piala-piala penghargaan dari beberapa kegiatan tentang pelestarian kebudayaan Indonesia.

            Keris yang diperlihatkan pertama yang memiliki tempat berwarna biru, sarungnya  terbuat dari kayu yang berwarna coklat dan di lapisi semacam logam. Kerisnya sendiri memiliki 7 lekukan, mempunyai tiga pamor yang berbeda dalam satu keris dan gagangnya terbuat dari gading yang sudah diberi motif.

            Tempat pembuatan keris tidak terlalu luas sekitar 6 x 5 m, dindingnya terbuat dari batu bata yang tersusun, jendela sebagian dari gamacca dan atapnya genteng. Ububan adalah dua buah kayu besar yang masing-masing tengahnya berlubang dan berdampingan. Di tengah-tengahnya terdapat dua kayu kecil yang ujungnya masing-masing memiliki kain di isi semacam kapas dan mengikuti bundaran dari lubang kayu tersebut. Jika kayu tersebut di naikkan secara bergantian akan menimbulkan sebuah dorongan udara ke sumber perapian. Semakin kuat tekanan maka dorongan udara yang dihasilkan semakin besar pula. Perapian sebuah tempat yang bentuknya persegi empat panjang yang di tengahnya trdapat arang, di sampingnya terdapat lubang udara yang merupakan sambungan dari alat ububan. Selain ububan yang membantu perapian, pada bagian tengah terdapat ruang di bawa arang yang membantu perapian, alat ini harus menggunakan listrik inilah. Saat alat-alat itu di gunakan untuk mencapai suhu 1000 Co  hanya memerlukan 10 – 15 menit saja.

1.      Ritual

            Sebelum pembuatan keris dilakukan ada semacam ritual yang dilaksanakan Empu, yakni menyediakan sesajen dan tapa laku yang dilakukan oleh empu atau pemesan keris

2.      Penemapaan

            Penempaan merupakan proses penyatuan antara besi, baja dan nikel. beberapa unsur-unsur tersbut di campur dengan teknik tempa, bahan-bahannya di lipat-lipat dan di satukan kemudian di tempa dengan suhu 900-1100 derajat. Nguasuh adalah proses pembersihan logam besi dari  kotoran-kotoran permukaan besi, dengan cara di tempa berulang-ulang. Setelah bersih besi dilipat menjadi 3 bagian dan ukuran lipatan harus sama. Bahan nikel yang akan dimasukan ke dalam lapisan besi mempunyai ketebalan nikel 1:10 dari besi, lipatan tersebut di rapatkan kemudian dibakar.  Setelah besi berpijar di tempa lagi secara berulang-ulang pada sluruh permukaan, agar nikel dan besi menyatu. Di saat nikel telah menyatu kemudian ditempa lagi berulang-ulang sehingga menjaadi agak pipih dan berbentuk memanjang, kemudian dilipat menjadi tiga bagian kembali. Lapisan tersebut disatukan kembali ditempa kembali dan terus berulang-ulang sesuai dengan jumlah lipatan yang diinginkan. Hasil dari pelipatan atau pencampuran nikel disebut saton, saton kemudian di bentuk memanjang dan dilipat menjadi dua bagian.

Mempersiapkan baja keudian dimasukkan diantara lapisan saton, saton dan baja tersebut dibakar, ketika berpijar disatukan kembali dan  istilah penyatuan disebut  ngeloro. Proses ngeloro harus benar-benar menyatu, kemudian pada pangkal bilah di potong untuk dipersiapkan menjadi bahan konjo. Setelah bahan di potong, kemudian pembentukan keris akan di mulai, di awali dengan pembentukan pinggang bilah dengan istilah bengkek dengan menggergaji pada pangkal. Besi dipanjangkan kira2 5-7cm, kemudian dilanjutkan pola pembentukan keris. 

Setelah keris terbentuk maka di haluskanlah dengan menggunakan gerinda.

3.      Finishing

            Setelah keris selesai empu melakukan sesaji penutup yakni ungkapan rasa sukur karena keris yang di buat telah selesai dan sesuai dengan harapan.

4.      Hari yang baik dalam pembuatan keris

1. Selasa Pahing

2. Rabu Pon

3. Rabu Pahing

4. Kamis Pahing

5. Kamis Pon

Hari Pantangan :

1. Rabu Kliwon wafatnya Pangeran Sedayu

2. Senen Legi wafatnya Pangeran Sendang

3. Senen Wage wafatnya Pangeran Welang

4. Akhad Wage wafatnya Pangeran Cindheamoh

            Keris merupakan salah satu warisan dari kebudayaan Indonesia yang harus dilestarikan. Proses pembuatan keris mempunyai beberapa tahap di mulai dari melakukan ritual dan berpuasa pada hari-hari tertentu, penempaan dan melakukan syukuran. Proses membuat segala sesuatu menjadi bermakna dan bernilai.  

Diposkan pada Pengelolaan Seni Pertunjukan

Taksi Event

TAKSI  Events mengelola…

UJIAN TUGAS AKHIR PENCIPTAAN TARI

“SUMANGE’NA BISSU” oleh Aryanti Sultan, S.Sn

          Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala Rahmat dan karunia-Nya atas terselenggaranya kegiatan ujian tugas akhir “Sumang’na Bissu” pada hari Minggu 8 Juli 2012, bertempat di Gedung Pertunjukan Teater Arena ISI Yogyakarta, pukul 19.30 sampai dengan pukul 21.30. Pertunjukan yang diawali dengan Tari Pa Du’pa persembahan dari Asrama Putri Wajok, kemudian dilanjutkan dengan Pementasan “Sumange’na Bissu”, dan  kemudian berakhir oleh atraksi dari ma’giri yang memukau dari Puang Upe, Pemimpin Bissu dari Sulawesi Selatan. Acara berlangsung meriah dengan tepuk tangan dari 300 penonton yang memadati gedung pertunjukan malam itu.

Taksi wall merupakan sebuah wadah yang dibangun dengan semangat solidaritas teman-teman mahasiswa Magister Tatakelola Seni. Dengan wadah ini teman-teman mencoba untuk mewujudkan suatu apresiasi yang berkaitan dengan pengelolaan seni. Untuk itu kami memulai dari pengelolaan karya tugas akhir dari mahasiswa penciptaan PPs ISI Yogyakarta.

Tim Produksi yang kami bentuk dalam karya Sumange’na Bissu melibatkan kurang lebih 100 orang. Proses  dari pembentukan tim produksi dan penentuan jadwal latihan dimulai pada bulan maret. Kemudian dilanjutkan dengan intens latihan dan penggabungan antara musik dan tari di bulan Juni.

Dalam proses menuju pentas, banyak kendala yang teman-teman harus lalui. Kami dari Tim produksi tetap optimis dan selalu memberikan motivasi disetiap proses-proses yang berlangsung. Saat proses berlangsung hal yang paling banyak kami diskusikan mengenai waktu. Persoalan waktu akan selesai ketika ada kesadaran dari setiap individu bahwa hal ini merupakan kepentingan  bersama atau kebutuhan tim.  Namun kami mengkondisikan situasi para pendukung yang terlibat dalam pertunjukan “Sumange’na Bissu”.

Untuk itu, saya selaku Pimpinan Produksi Pertunjukan “Sumange’na Bissu” selalu memberikan motivasi, kepada seluruh pendukung untuk lebih memaksimalkan waktu dan tenaga demi kesuksesan pertunjukan ini.  Komunikasi  menjadi salah satu upaya untuk membangun hubungan emosional seluruh  pendukung.

Terimakasih kami haturkan kepada pihak-pihak yang banyak membantu  dalam mendukung tim produksi  untuk kesuksesan pertunjukan “Sumange’na Bissu”. Diantaranya  Fakultas Seni Pertujukan, Jurusan Etnomusikologi ISI Yogyakarta, Jurusan Teater ISI Yogyakarta, Rekan-rekan dari Asrama Putri Wajo, Asrama Putra Pare-Pare, Asrama Bedog, Teman-Teman dari Teater Trisula UST, Teman-Teman dari ISI Solo, Teman-Teman dari Universitas Negeri Makassar, Teman-Teman dari Baruga Colliq Pujie, Teman-Teman dari PascaSarjana ISI Yogyakarta, Teman – Teman dari Sanggar Nusantara, Keluarga besar IKAMI SULSEL, Teman-Teman Magister TataKelola Seni angkatan kedua, Rekan-rekan media, rekan-rekan sponsor  dan semua pihak yang turut membantu demi kesuksesan pertunjukan ini. 

Saya mewakili sahabat-sahabat dari Magister TataKelola Seni angkatan pertama mengucapkan terimakasih kepada kalian semua. Akhirnya upaya yang kita bangun bersama dari awal hingga produksi ini selesai dapat menjadi sebuah wujud solidaritas dan mempererat hubungan emosional kita bersama.

Haryudi Rahman (Pimpinan Produksi)


Pimpinan Produksi                    

Haryudi Rahman, S. Pd

Administrasi                                

Novena Ulita, S. Pd &

Kristina Novi, S.Sn

Stage Manager                                            

Susanto, S. Sn

Media, Publikasi, Multimedia

Setyo Harwanto, S. Sn

Dokumentasi Video                    

Hanif ZR, S. Sn

Dokumentasi foto                                       

Syamyatmoko, S. Sn

Diposkan pada Interpretasi

PERANANMASYARAKAT TERHADAP KELEMBAGAAN DAN TEKNLOGI DALAM PROSES PRODUKSI MUSIK TRADISI

PERANANMASYARAKAT TERHADAP KELEMBAGAAN DAN TEKNLOGI DALAM PROSES PRODUKSI MUSIK TRADISI

Masyaraakat adalah sehimpunan/sekumpulan manusia-manusia yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan, aturan-aturan tertentu. Masyarakat” adalah golongan besar atau kecil terdiri dari beberapa manusia yang dengan atau karena sendirinya bertalian secara golongan dan merupakan sistem sosial yang pengaruh-mempengaruhi satu sama lain (Shadily, 1980: 31; Soekanto, 1993: 466). Peranan masyarakat yang kita  meliputi, peranan pembatasan (limiting) dan peranan pendukung (enabling). Pada tulisan kali ini akan membahas tentang peranan masyarakat (pembatasan dan pendukung) terhadap kelembagaan dan teknologi dalam  proses prduksi musik.

Essai ini akan membahas tentang peranan masyarakat terhadap kelembagaan dan teknologi dalam proses produksi musik. Dan yang kedua peranan pendukung masyarakat terhadap kelembagaan dan teknologi dalam proses produkssi musik. Hal ini bertujuan agar penulis dapat mengetahui apa saja yang didukung oleh masayarakat dan dibatasi dalam proses produksi musik.

Agar pembahasan lebih terarah penulis mencoba menggunakan dua rumusan masalah yang berangkat dari judul. Yang pertama : Bagaimana peranan pembatasan masyarakat terhadap kelembagaan dan teknologi dalam proses produksi musik? Yang kedua: Bagaimana peranan pendukung masyarakat terhadap kelembagaan dan teknologi dalam proses produksi musik?.

Bagaimana peranan pembatasan (limiting) masyarakat terhadap kelembagaan dan teknologi dalam proses produksi musik tradisional?

Seperti yang telah di katakan di atas masyarakat adalah sekumpulan manusia-manusia yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan atura tertentu. Merujuk dari arti masyarakat di dalamnya terdapat ikatan-ikatan dan aturan-aturan. Timbul pertanyaan-pertanyaan, aturan-aturan seperti apa di dalam masyarakat? Ikatan yang seperti apa?. Telah kita ketahui bersama bahwa dalam pembahasan ini masyarakat mempunyai peranan pembatasan terhadap teknologi dan kelembagaan. Muncul lagi beberapa pertaanyaan, dimana letak pembatasan masyarakat terhadap teknologi dan kelembagaan? Bagaimana masyarakat melakukan pembatasan terhadap teknologi dan kelembagaan ? Apa yang di batasi masyarakat terhadap teknologi dan kelembagaan? Tentunya pertanyaan-pertanyaan ini bersangkutan dengan proses produksi musik tradisi.

Masyarakat tentunya mempunyai peranan yang sanagat penting dalam hal proses produksi. Dalam proses produksi musik tradisional masyarakat akan melalukakan pembatasan terhadap kelembagaan dan teknologi. Lembaga sosial merupakan satuan norma khusus yang menata serangkaian tindakan yang berpola untuk keperluan khusus manusia dalam kehidupan bermasyarakat (Koentjaraningrat). Kelembagaan adalah merupakan salah satu wadah bagi masyarakat mengembangkan potensinya atau bisa dikatakan pengembangan skill. Lembaga juga merupakan salah satu penyalur produksi seni (dalam hal ini musik tradisional). Teknologi merupakan sebuah sarana untuk memudahkan manusia melakukan segala sesuatu.

Masyarakat memiliki aturan-aturan yang telah disepakati bersama, entah itu aturan yang beerhubungan dengan kebudayaan, aturan yang berada dalam lingkungan setempat dan aturan dalam berkeluarga. Peranan pembatasan yang dimaksudkan dalam pembahasan ini yakni masyarakat akan melakukan pembatasan produksi dengan mempertimbangkan hal-hal yang menyakngkut dengan aturan-aturan yang berlaku.

Kelembagaan yang memproduksi musik tradisional merupakan wadah untuk masyarakat mengembangkan wawasannya tentang musik tradisi. Masyarakat melakukan pembatasan dalam kelembagaan dengan alasan masyarakat mempunyai aturan-aturan. Masyarakat akan membatasi hal-hal yang menyangkut dengan tradisional. Telah diketahui masyarakat terbagi dua yakni, masyarakat modern dan masyarakat tradisi. Masyarakat modern akan melihat dari perubahan apa yang akan dilakukan terhadap proses prduksi musik tradisi. Dikala proses produksi itu senidiri tidak merubah konvensinya, masyarakat moderen akan melakukaan pembatasan terhadap kelembagaan. Sedangkan masyarakat tradisi akan melakukan pembatasan kelembagaan dalam proses produksi musik tradisi dengan melihat konvensi-konvensinya sebagai ketetaapan. Masyarakat tradisi akan melihat secara detil tentang proses produksi musik tradisi ini. Apakah sudah seesuai dengan yang berlaku atau tidak. Ketika tidak sesuai maka masyarakat tradisi akam membatasi kelembagaan dalam proses produksi musik tradisi.

Teknologi merupakan unsur dari proses produksi musik tradisi. Pembatasan masyarakat modern terhadaap teknlogi adalah melihat dari unsur teknik, instrumen dan lain-lain. Saat proses prduksi musik tradisi menilai teknik dan instrumen yang digunakan tak berubah maka massyarakat modern akan membatasinya. Sedangkan masyarakat tradisi membatasi teknologi yang berubah.

Dari cara pandang diatas penulis mengambil peranan pembatasan masyarakat modern dan masyarakat tradisi. Masyarakat modern membatasi kelembagaan dan teknologi dalam proses produksi musik tradisi dari sisi  konvensi-konvensi yang tidak berubah. Sedangkan masyarakat tradisi membatasi dari sisi konbensi-konvensi yang berubah.

Bagaimana peranan pendukung masyarakat terhadap kelembagaan dan teknologi dalam proses produksi musik tradisi?

Jika dalm peranan pembatasan masyarakat adalah hal-hal yang menyimpang ari aturan-aturan yang telah disepakati, maka peranan pendukung masyarakat terhadap kelembagaan dan teknologi adalah hal-hal yang konvensional.

Masyarakat moderen akan melakukan dukungan terhadap kelembagaan dalam proses produksi musik tradisi, ketika konvensi-konvensi itu berubah. Sekali lagi penulis mempertegas tentang kelembagaan yang merupakan wadah untuk mengembangkan skill dan lain-lain. Masyarakat modern akan mendukung ketika kelembagaan mampu melihat apa yang “berkembang” pada saat ini. Berbeda pada masyarakat tradisi yang mempertahankan konvensinya. Mereka akan mendukung kelembagaan yang tidak merubah aturan-aturan dalam musik tradisi tersebut.

Dalam teknologi masyarakat moderen akan mendukung proses produksi musik tradisi ketika konvensi-konvensi dari teknologi itu di rubah. Namun bukan merubah dalam hal keseluruhan, bisa saja dari instrumen yang menggunakan elektrik. Masyarakat modern akan mendukung hal ini. Berbeda lagi dengan masyarakat tradisi, mereka mendukung dengan mempertahankan konvensinya.

Dari paparan diatas penulis akan mengambil kesimpulan bahwa peranan pembatasan dan pendukung masyarakat bukan sesuatu pengelompkan. Sebagai contoh Kraton, masyarakat yang berada di dalamnya akan membatasi hal-hal moderen. Karena kraton merupakan mempunyai aturan-aturan yang harus dijalankan. Namun masyarakat kraton juga tidak membatasi masyarakat yang diluar dari kraton itu sendiri untuk melakukan hal yang sama dengan yang di dalam kraton.

Peranan pembatasan masyarakat tergantung dari masyaraktnya sendiri, ketika masyarakat moderen membatasi sesuatu akan memandang dari sudut perubahan yang dilakukan. Sedangkan pada masyarakat tradsi membatasi hal-hal  yang berubah dari konvensinya.

Peranan pembatsan masyarakat juga tergantung pada masyarakatnya sendiri, masyarakat modern akan mendukung ketika proses produksi itu berubah. Berbeda dengan masyarakat  tradisi akan mendukung ketika konvensinya tidak berubah.