Posted in Pengelolaan Seni Pertunjukan

Mahasiswa Magister Tatakelola Seni ISI Yogyakarta Menggelar Pendampingan Kesenian Pekbung Wijirejo (Pengabdian Masyarakat)

Magister Tatakelola Seni terbilang baru di dunia pendidikan Indonesia yang memiliki fokus pengelolaan di bidang seni. Mahasiswa diangkatan pertama sangat antusias untuk membangun citra Prodi tersebut. Dengan merealisasikan program-program dari matakuliah, mahasiswa mampu untuk memberikan sesuatu untuk masyarakat dan memberikan pencitraan yang positif pula tentunya. Kegiatan ini berlangsung daritanggal 2 Januari sampai tanggal 20 jan 2013. Dan didalamnya akan diberikan bekal mengenaipengelolaankeseniansecara internal daneksternal, internal terkait dengan pengelolaan secara musikal, dan eksternal berkaitan tentang bagaimana menjalin relasi dengan media dan strategi publikasi. Menurut Novena, mahasiswi MTS angkatan 2011, kosentrasi Manajemen Seni Budaya, sebagai akademisi ada baiknya ilmu yang diperoleh dalam kelas dapat membantu permasalahan kesenian yang ada di masyarakat, dalam hal ini kesenian tradisional yang dimiliki masyarakat setempat dapat mengangkat potensi desa lainnya, sehingga juga dapat menjadi pariwisata desanya sehingga berdampak pada perekonomian masyarakat setempat pula.

Pembukaanpendampingantersebutdilaksanakan, tadimalam, 02 Januari 2013.Acara yang yang direncanakan mulai jam 7 malam, karena faktor cuaca yang hujan deras, akhirnya mulai pada pukul  8.30  di Aula KelurahanWijirejo, Pandak, Bantul. Kami mengadakan sebuah program pemberdayaan masyarakat dengan tema “Pekbung Semangat Indonesia”.  Dalam program ini melibatkan langsung pelaku kesenian pekbungdi Desa Wijirejo. Dari hasil obsevasi teman-teman Mahasiswa MTS (Magister Tatakelola Seni) menemukan tiga kelompok kesenian pekbung di tersebut. Kemudian dari hasil wawancara dan dokumentasi kami mencoba untuk melakukan sesuatu untuk keberlangsungan kesenian tersebut, kata Kristin.

Saat Pembukaan dihadirkan beberapa komunitas musikdarimahasiswa/I yang peduli akan masyarakat dalam berkesenian diantaranya Komunitas PATROL (Ikatan Mahasiswa Jember Yogyakarta), Komunitas Pecel Phencuk (kumpulan mahasiswa dari banyuwangi), HMJ Etnomusikologidari ISI Yogyakarta, dan Djembe Sewon (komunitas perkusi sewon, Bantul)dengan memberikan apresiasi komposisi musik yang dominan dengan music ritmis. Dengan harapan, melalu apresiasi tersebut kelompok  pekbung dan kelompok musik lainnya dapat saling menginspirasi, ujar Arya.

Setelah sambutan dari perwakilan Mahasiswa MTS, Kelurahan dan Pekbung. Barulah kelompok kesenian pekbung  ini menyajikan lima buah lagu dengan menggunakan dua penyanyi. Meskipun cuaca pada malam itu tidak mendukung untuk semua pemain-pemain pekbung ikut terlibat, tetapi semangat dan antusias dari mereka terlihat saat mereka melakukan spontanitas kolaborasi dengan 3 klompok pekbung. Tepukan dan sorakan dari penonton sangat meriah dengan adanya kolaborasi tersebut. Sesekali penonton ikut bernyanyi dan memberikan irama tepukan,  suasana hujan yang dingin menjadi hangat di Aula kelurahan Wijirejo.

Kemudian dilanjutkan dengan kelompok Djembe Sewon, yang memberikan sajian perkusi dan sangat interaktif. Dilanjutkan oleh kelompok HMJ Etnomusikologi dengan menampilkan arransemen musik nusantara. Dan penampilan yang terakhir oleh kelompok Patrol yang menampilkan beberapa lagu dengan instrument yang terbuat dari pohon nangka.

Setelah beberapa repertoar yang telah diapresiasi kami juga mengadakan sharing dengan klompok kesenian pekbung dan kelompok musik lainnya. Melalui dikskusi ini mengenal dan mengetahui kendala-kendala yang selama ini dihadapi oleh pelaku kesenian pekbung tersebut. Menurut salah seorang pemusik Pekbung, ketertarikan terhadap seni, sejak 1972 karena merupakan pengajar tari sebelumnya, hingga selanjutnya tertarik dalam pelestarikan dan eksistensi kesenian Pekbung di desa nya  kemudian bergabung di Kelompok Pekbung Sambung Tresno dengan pimpinan Pak Gayuh.

Sedangkan Angga, siswa SMP kelas VIII yang merupakan pemusik Pekbung, ketertarikannya terhadap kesenian sejak ekstrakurikuler perkusi di sekolahnya dan kemudian ikut bergabung bersama ayahnya yang seorang penabuh ‘pekbung’ di Kelompok Pekbung Dakon Marga Budaya. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap kesenian Pekbung, tidak perlu menjadi kekwatiran dengan adanya dukungan dari para pelakunya yang tetap eksis berlatih dan berkarya dapat menghadirkan ide-ide  penggarapan musik yang lebih menarik misalnya Pekbung Jazz, menurut Deny pemusik dari Djembe Sewon. 

Bagi Dawai, mahasiswa UGM jurusan ekonomi, Komunitas Patrol, kegiatan ini sangat memberikan wawasan baru, karena  merupakan berasal dari beberapa latarbelakang pendidikan yang berbeda, dan bukan dari bidang seni, pengetahuan akan keberadaan Kesenian Pekbung di Yogyakarta sangat mengapresiasi dan berharap kesenian ini akan memperkaya kesenian di Indonesia. Sedangkan Stevi, mahasiswa pertukaran pelajar di ISI Yogyakarta dari Jerman, mengatakan sangat apresiatif terhadap Kesenian Pekbung, karena  kesenian di Indonesia memiliki keunikan tersendiri karena adanya interaksi yang dapat dibangun dengan penontonnya. (hr)

Penulis:

Proses merubah sesuatu menjadi berarti

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s