Posted in Penelitian

Proses Pembuatan Keris

Kebudayaan merupakan hasil karya , budi , dan pemikiran manusia pada suatu daerah atau bangsa tertentu . Hal tersebut menyebabkan adanya perbedaan-perbedaan kebudayaan antar daerah bahkan dalam satu bangsa atau negara .

Seiring perjalanan waktu, perkembangan peradaban, pemikiran, dan perkembangan arus informasi yang semakin cepat, mengakibatkan akulturasi kebudayaan antar bangsa yang semakin sering dan mudah diterima. Hal tersebut terkadang membuat kita sering melupakan kebudayaan yang ada pada daerah sendiri sebagai identitas daerah.

Senjata tradisional menjadi khasanah budaya indonesia, tentunya setelah nenek moyang kita mengenal besi. Begitu banyak bangunan-bangunan candi yang berdiri sebelum abad ke-10, hal ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia pada waktu itu telah mengenal peralatan besi yang cukup bagus, sehingga mereka dapat menciptakan karya seni pahat yang bernilai tinggi.

Seorang pandai besi yang bertempat tinggal di bagian barat Yogyakarta, tepatnya Getak Sumber Agung Moyudan Sleman dan bernama Ki Empu Sungkowo Harumbrodjo. Pria yang berumus sekitar 50 tahun memulai aktifitas membuat keris ketika di ajak oleh ayahnya pada tahun 90-an hingga saat ini. Empu sungkowo mewarisi keahlian ayahnya Ki Empu Djeno Harumbrodjo.

Ki Empu Djeno Harumbrodjo adalah putra dari Ki Supowinangun yang merupakan Empu Keris abdi dalem Kepatihan Kraton Yogyakarta. Sejak berumur 15 tahun Ki Empu Djeno Harumbrodjo mulai membantu ayahnya Ki Supowinangun membuat keris. Setelah Ki Supowinangun meninggal dunia Empu Djeno bertekad meneruskan warisan pembuatan keris dari ayahnya.

            Perjalan di tengah terik matahari yang menempuh kira-kira 60 menit dari kota jogja hingga ke tempat pembuatan keris di bagian barat jogja. Terasa sejuk ketika tiba di depan halaman rumah Pak Djono yang mempunyai rumah besar, pagar warna coklat yang tingginya kira-kira 2 meter dan panjang 6 meter , suasana pedesaan sangat terasa. Suara besi terdengar dari arah tempat pembuatan keris yang berada tepat di belakang rumah. Seorang pria yang memakai celana pendek dan memakai topi, sedang merapikan sebuah keris yang belum jadi di depan tempat pembuatan keris. Di atasnya bertuliskan papan nama Seni Tempa Pamor Ki Empu Harumbrodjo Getak Sumber Agung Moyudan Sleman.

            Ruang tamu yang unik, disekelilingnya terdapat pajangan-pajangan yang di bingkai tentang keturunan empu keris di mulai dari, Mojopait: Kyai Empu Tumenggung Supodriyo, Kyai Empu Joko Supo, Tuban: Kyai Empu Supoanom dan Kyai Empu Sektilanang, Mtaram: Nyai Panjang Emas, Kyai Empu Cindeamoh dan Kyai Empu Suponyang, Kartosuro: Kyai Empu entowayang dan Mas Ayu Kadarsi, Surokarto: Raden Ayu Pandit, Ngento-Ento: Nyai Badur dan Kyai Empu Kertoyudo, Jenggalan: Kyai Empu Joyosenito, Kyai Empu Joiruno dan Kyai Empu Supowinangun.

            Secara agris besar keturunan Pak Djono merupakan  keturunan dari Ngento-ento yakni Kyai Empu Kertoyudo. Pak Djono juga diwariskan keahlian membuuat keris oleh ayahnya. Di dinding-dinding rumah ada juga pajangan tentang jenis-jenis pamor, bagian-bagian keris dan foto-foto proses pembuatan keris. Di ruang tamu ada semacam tempat penyimpanan keris namun yang di pajang hanya sarung dari keris tersebut. Tombak yang panjangnya sekitar 1 meter lebih ada 3 buah, dan piala-piala penghargaan dari beberapa kegiatan tentang pelestarian kebudayaan Indonesia.

            Keris yang diperlihatkan pertama yang memiliki tempat berwarna biru, sarungnya  terbuat dari kayu yang berwarna coklat dan di lapisi semacam logam. Kerisnya sendiri memiliki 7 lekukan, mempunyai tiga pamor yang berbeda dalam satu keris dan gagangnya terbuat dari gading yang sudah diberi motif.

            Tempat pembuatan keris tidak terlalu luas sekitar 6 x 5 m, dindingnya terbuat dari batu bata yang tersusun, jendela sebagian dari gamacca dan atapnya genteng. Ububan adalah dua buah kayu besar yang masing-masing tengahnya berlubang dan berdampingan. Di tengah-tengahnya terdapat dua kayu kecil yang ujungnya masing-masing memiliki kain di isi semacam kapas dan mengikuti bundaran dari lubang kayu tersebut. Jika kayu tersebut di naikkan secara bergantian akan menimbulkan sebuah dorongan udara ke sumber perapian. Semakin kuat tekanan maka dorongan udara yang dihasilkan semakin besar pula. Perapian sebuah tempat yang bentuknya persegi empat panjang yang di tengahnya trdapat arang, di sampingnya terdapat lubang udara yang merupakan sambungan dari alat ububan. Selain ububan yang membantu perapian, pada bagian tengah terdapat ruang di bawa arang yang membantu perapian, alat ini harus menggunakan listrik inilah. Saat alat-alat itu di gunakan untuk mencapai suhu 1000 Co  hanya memerlukan 10 – 15 menit saja.

1.      Ritual

            Sebelum pembuatan keris dilakukan ada semacam ritual yang dilaksanakan Empu, yakni menyediakan sesajen dan tapa laku yang dilakukan oleh empu atau pemesan keris

2.      Penemapaan

            Penempaan merupakan proses penyatuan antara besi, baja dan nikel. beberapa unsur-unsur tersbut di campur dengan teknik tempa, bahan-bahannya di lipat-lipat dan di satukan kemudian di tempa dengan suhu 900-1100 derajat. Nguasuh adalah proses pembersihan logam besi dari  kotoran-kotoran permukaan besi, dengan cara di tempa berulang-ulang. Setelah bersih besi dilipat menjadi 3 bagian dan ukuran lipatan harus sama. Bahan nikel yang akan dimasukan ke dalam lapisan besi mempunyai ketebalan nikel 1:10 dari besi, lipatan tersebut di rapatkan kemudian dibakar.  Setelah besi berpijar di tempa lagi secara berulang-ulang pada sluruh permukaan, agar nikel dan besi menyatu. Di saat nikel telah menyatu kemudian ditempa lagi berulang-ulang sehingga menjaadi agak pipih dan berbentuk memanjang, kemudian dilipat menjadi tiga bagian kembali. Lapisan tersebut disatukan kembali ditempa kembali dan terus berulang-ulang sesuai dengan jumlah lipatan yang diinginkan. Hasil dari pelipatan atau pencampuran nikel disebut saton, saton kemudian di bentuk memanjang dan dilipat menjadi dua bagian.

Mempersiapkan baja keudian dimasukkan diantara lapisan saton, saton dan baja tersebut dibakar, ketika berpijar disatukan kembali dan  istilah penyatuan disebut  ngeloro. Proses ngeloro harus benar-benar menyatu, kemudian pada pangkal bilah di potong untuk dipersiapkan menjadi bahan konjo. Setelah bahan di potong, kemudian pembentukan keris akan di mulai, di awali dengan pembentukan pinggang bilah dengan istilah bengkek dengan menggergaji pada pangkal. Besi dipanjangkan kira2 5-7cm, kemudian dilanjutkan pola pembentukan keris. 

Setelah keris terbentuk maka di haluskanlah dengan menggunakan gerinda.

3.      Finishing

            Setelah keris selesai empu melakukan sesaji penutup yakni ungkapan rasa sukur karena keris yang di buat telah selesai dan sesuai dengan harapan.

4.      Hari yang baik dalam pembuatan keris

1. Selasa Pahing

2. Rabu Pon

3. Rabu Pahing

4. Kamis Pahing

5. Kamis Pon

Hari Pantangan :

1. Rabu Kliwon wafatnya Pangeran Sedayu

2. Senen Legi wafatnya Pangeran Sendang

3. Senen Wage wafatnya Pangeran Welang

4. Akhad Wage wafatnya Pangeran Cindheamoh

            Keris merupakan salah satu warisan dari kebudayaan Indonesia yang harus dilestarikan. Proses pembuatan keris mempunyai beberapa tahap di mulai dari melakukan ritual dan berpuasa pada hari-hari tertentu, penempaan dan melakukan syukuran. Proses membuat segala sesuatu menjadi bermakna dan bernilai.  

Penulis:

Proses merubah sesuatu menjadi berarti

One thought on “Proses Pembuatan Keris

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s