Posted in Interpretasi

Peranan Artistic Director

A. Latar Belakang

Perkembangan seni pertunjukan di Indonesia di mulai pada abad ke-18 hingga saat ini. Sebagai negara  baru, Indonesia merupakan negara yang berkembang seni pertunjukaannya. Meskipun perkembangan itu berangkat dari suatu kondisi yang tumbuh dalam lingkungan etnik. Pada masa perkembangannya seni pertunjukan hanya di khususkan buat raja-raja dan yang berkediaman di istana. Hingga untuk menyaksikan sebuah pertunjukan sangatlah sulit. Akhirnya para praktisi seni pertunjukan memutuskann untuk pentas ke masyarakat umum juga. Sejalan dengan berkembangnya seni pertunjukan maka lahirlah sebuah organisasi-organisasi yang lebih memperhatikan kebudayaan-kebudayaan lokal.

Seni pertunjukan merupakan cabang dari seni yang meliputi, Musik, Tari, dan teater. Cabang-cabang inilah yang di pertunjukkan untuk penonton di sebuah panggung. Di era modern ini perkembangan organisasi-organisasi pertunjukan seiring dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat akan pertunjukan. Entah itu yang bersifat profit dan  nonprofit. Khususnya daerah Yogyakarta yang kita kenal bukan hanya kota pendidikan, namun juga merupakan kota yang kaya akan keseniaanya. Pertunjukan di setiap titik-titik kota hampir tiap hari diadakan dan beraneka ragam pertunjukan musik, tari dan teater.

Salah satu tempat yang sering mengadakan pertunjukan yakni perguruan tinggi ISI Yogyakarta. Pertunjukan yang mereka sajikan biasanya pertunjukan yang berhubungan mata kuliah atau tugas akhir dari mahasiswa-mahasiswi fakultas pertunjukan. Namun biasa juga mahasiswa-mahsiswi mengadakan pertunjukan yang  bertujuan untuk pembelajaran mengelola sebuah kegiatan.  Secara garis besar gedung ini sangat representatif untuk sebuah pertunjukan. Namun membicarakan pertunjukan pasti tak lepas pula pengelolaannya, kerena keduanya saling berhubungan. Unutk mencapai keberhasilan pertunjukan bukan hanya sekedar materi dari apa yang di sajikan ke pada audience. Melainkan ada sebuah kerjasama yang solid dari pihak pengelola pertunjukan tersebut atau manager pertunjukan.

Pengelolaan seni pertunjukan dibutuhkan pada setiap kegiatan-kegiatan pertunjukan. Demi mencapai efektifitas pertunjukan yang profesional. Dalam sebuah organisasi pertunjukan pada dasarnya mempunyai prinsip-prinsip yang sama, namun ada juga yang belum memahami akan hal ini. Untuk sebuah pertunjukan yang “profesional” mestinya ada langkah-langkah yang harus ditempuh.

Pada kesempatan ini penulis akan membahas tentang proses pengelolaan di bidang artistic director. Ini juga merpakan bagian penting dari sebuah pertunjukan, dan dalam pembahasan kali ini hanya berfokus pada artistic director hubungannya executive director.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana artistic director dalam pengelolaan symphony orcrstra dan hubungannya ke executive director ?

C. Teori

Tori Kepemimpinan,

• Proses mengarahkan dan mempengaruhi aktifitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok.

•  Kemampuan untuk menggunakan pengaruh, artinya, kemampuan untuk mengubah sikap atau tingkah laku individu atau kelompok.

• Tindakan atau contoh tingkah laku yang menyebabkan perubahan sikap atau tingkah laku orang atau kelompok lain.

• Kepemimpinan adalah fungsi atau proses seseoang mempenggaruhi orang lain untuk menjalankan kegiatan demi mencapai tujuan bersama.

• Motivasi adalah kebutuhan orang yang mendorong orang untuk berbuat sesuatu, yang kemudian yang kemudian orang menyebabkan orang bertingkah laku tertentu dalam usahanya untuk mencapai suatu tujuan.

Proses Manajemen

• Perenncanaan

• Pengorganisasian

• Pelaksanaan

• Pengendalian

D. Pembahasan

Berdasarkan teori kepemimpinan peranan artistic director perlu memahami akan hal-hal yang bersangkutan dengan bagaimana memperngaruhi seseorang demi tercapainya sebuah kegiatan tertentu. Seorang artisic director ketika mengelola sebuah symphony orcestra banyak hal yang perlu di pikirkan. Artistic director juga membutuhkan orang-orang untuk menjalankan fungsi-fungsi dari artistic director tersebut. Adapun fungsi-fungsinya yakni,

• Pengawasan semua aktivitas musisi

• Menyediakan pengarah musik , artis dan gedung pertunjukan concert hall/aula, dan yang berhubungan  dengan proses yang artistik.

• Bekerja sama dengan pengarah musik dalam hal memprogram dan menyeleksi pemain, menentukan jadwal, daftar lagu-lagu.

Berdasarkan fungsi inilah artistic director membutuhkan orang-orang untuk menjalankan fungsi-fungsi diatas. Dalam sebuah struktur organisasi, pengelolaan syimphony orchestra artistic director memerlukan stage manager, lighting manager, sound manager dan lain-lain yang sifatnya artistik. Peranan seorang Artistic director haruslah bisa menggerakkan orang-orang yang ada di bawahnya atau memimpin dan memotivasi agar tetap miliki semangat kerja dalam sebuah pencapaian kegiatan.

1. Perencanaan

Dalam tori proses manajemen ada empat tahap yang harus di lakukan, yang pertama adalah perencanaan. Artistic director juga memiliki perencanaan ketika mengelola sebuah pertunjukukan symphony orchestra. Ada beberapa hal yang dilakukan untuk perencanaan artistic director, yakni audisi, jadwal latihan, pengadaan gedung, sound system, lighting, kostum dan tata rias jika dibutuhkan. Perencanaan murupakan pencapaian akan sasaran yaang akan di tuju. Ketika perencanaan sudah dirumuskan tinggal menetapkan kapan akan di lakukan. Manfaat perencanaan dalam artistic director yakni mengurangi resiko ketidak pastian, memusatkan perhatian pada sasaran.

Executiv director dalam perencanaan ini menangani hal-hal yang sifatnya administrasi. Misalnya dalam perencanaan untuk audisi, artistic director memberikan referensi tempat yang layak untuk dipakai audisi kepada executive director. Dan executive directorlah yang mengurus semua perijinan untuk diadakannya audisi.

Telah kita ketahui bersama bahwa mengadakan pertunjukan berkaitan dengan waktu, tempat dan performer. Pada tahapan ini artistic dan executiv director bersama dengan anggota-anggota lainnya menentukan kapan pertunjukan akan dilaksanakan, dimana akan dilaksanakan, kemudian siapa yang menjadi performer.

Pemilihan waktu haruslah beruhubungan dengan tema yang akan di laksanakan. Misalnya ini penulis mencoba mengambil tema LOVE MOM,  pasti penulis akan sinkronkan dengan hari jadi ibu. Waktu juga berhubungan dengan siang dan malam, kalau siang berapa penonton yang akan hadir dan siapa penontonnya, begitu juga dengan di malam hari. Durasi pertunjukan juga harus di pikirkan karena ini berkaitan dengan tingkat kejenuhan penonton. Inilah yang harus dipertimbangkan dalam membuat sebuah pertunujukan.

Tempat merupakan alsan orang untuk mengapresiasi pertunjukan yang akan di laksanakan. Pemilihan tempat harus strategis dan gampang ditemukan, kemudian nyaman dan suasana di sekitarnya mendukung. Siapa yang akan jadi performer, hal ini juga harus disesuaikan dengan tema yang kita angkat. Untuk lebih menarik penonton mungkin ada baiknya kita persiapkan pemain-pemain dominan anak-anak kecil.

2. Pengorganisasian

Peongorganisasian pada artistic director dalam sebuah pertunjukan symphony orcestra, mengelompokkan pekerjaan-pekerjaan kedalam sebuah tim atau satu. Misalnya music director melaksanakan audisi untuk pemain orcestra, music director merupakan seorang komposer atau conduct. Melaksanakan audisi perlu mengetahui apa-apa yang menjadi pertimbangan untuk sebuah pemain  simfoni orkestra.

Stage manager megatur kebtuhan-kebutuhan panggung, menyediakan hal-hal yang berhubungan dengan pemain. Dalam pemilihan tempat pentas haruslah orang yang betul memahami tentang akustik ruang, misalnya dalam concer hall. Mengatur alur pertunjukanp dan penyediaan stand part.

Sound manager mempertimbangkan kualitas suara yang akan di keluarkan, survei tentang gedung pertunjukan yang telah di tetapkan dan mempertimbangkan kebutuhan sound yang akan di pakai dalam kapasitas watt. Kemudian kebutuhan mic yang di perlukan dan jenis mic yang di gunakan. Dalam pertunjukan simfoni orkestra sa

Lighting manager mengatur pencahayaan di atas panggung, secara umum posisi lighting di dalam pertunjukan simfony orkestra hanya sebagai penerangan saja. Namun ini tergantung dari konsep pertunjukan.

Dalam pengorganisasian executive director menjelaskan berapa penonton yang akan hadir dan berapa tiket yang harus diproduksi untuk satu pertunjukan. Hal ini berkaitan dengan penonton nantinya. Kapasitas penonton akan mempengaruhi akustik ruang, maka dari itu harus dipaparkan pada saat pengorganisasian.

3. Pelaksanaan

Artistic director dalam proses pelaksanaan yakni meberikan instruksi atau mengkomunikasikan harapan organisasi, memimpin dan memotivasi. Dalam hal ini lebih kepada memberikan semangat kepada anggota-anggota dan membangun komunikasi.

Pada saat pelaksanaan, waktu harus susuai dengan yang ada di jadwal pertunjukan. Karena kita juga harus tetap konsisten dengan waktu yang telah ditentukan. Kemudian penentuan kursi untuk penonton undangan, penonton khusus dan penonton biasa, ini harus juga dipikirkan karena berhubungan dengan bagaimana membuat mereka menjadi lebih nyaman dan akan berdampak kegiatan-kegiatan selanjutnya.

4. Pengendalian

Pngendalian merupakan bagian tak terpisahkan dalam proses manajemen dan sering dikaitkan dengan fungsi perencanaan. Pengendalian pada prinsipnya adalah mekanisme yang berfungsi untuk menjamin atau memastikan tercapainya sasaran yang telah  di tetapkan dalam perencanaan.

Pada tahapan pengendalian ini lebih kepada mengevaluasi kegiatan yang telah terlaksana. Semua yang terlibat dalam kegiatan ini memaparkan hal-hal yang belum tercapai mulai dari perencanaan sampai pada tahapan ini. Setelah memaparkan kekurangan-kekurangan yang terjadi, maka dijadikan untuk mengatasi kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan selanjutnya.

E. Kesimpulan

Pengelolaan artistic director dalam perrtunjukan simfoni orkestra merupakan sebuah peranan penting dalam organisasi pertunjukan. Artistic director harus mengetahui tentang gedung yang representatif, sound, lighting, kostum dan rias jika diperlukan. Kemudian bekerjasama dengan artistic director hal-hal yang berkaitan dengan administrasi.

Daftar Pustaka

Greg Soetomo, SJ. 2007. Management Peter F.Drucker on Church. Jakarta: OBOR.

Mitch Weiss, dan Perri Gaffney. 2005. Managing Artists In Pop Music (Kunci Sukses Artis dan Manager. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Soedarsono, R., M. 2003. Seni Pertunjukan Dari Perspektif Politik, Sosial dan Ekonomi. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

Suyanto, M. 2007. Marketing Strategy Top Brand Indonesia. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.

Tobie S. Stein., dan Jessica Bathurst. 2008. Performing Art Management (A Handbook of Professional Practicies. Published: Allworth Press.

Wendi Putranto,. 2009. Rolling Stone Music Bizz (Manual Cerdas Menguasai Bisnis Musik). Yogyakarta: B-First.

Penulis:

Proses merubah sesuatu menjadi berarti

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s